Analisis
Novel Ranah 3 Warna
Oleh
Haning Sylirana Sri Danthy.A
Judul Buku :
Ranah 3 Warna
Pengarang :
A. Fuadi
Penerbit :
PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 473 halaman
Tahun Terbit :
Tahun 2011
* Analisis
Tema Khusus : Perjuangan dalam meraih cita-cita
Tokoh dan penokohan :
- Alif :
Pekerja keras : “Pintu kamar pun aku kunci dan sudah berhari-hari
aku mengurung diri, hanya ditemani bukut-bukit buku. Bahkan kalau adiku
diam-diam mengintip dari balik pintu, aku halau mereka...” (Hal. 296)
Tidak mudah putus asa, ikhlas : “Akhirnya aku memilih untuk ikhlas saja, walau
diperlakukan dengan keras. Hari ini aku sibuk sekali karena harus memperbaiki
naskah, mengetik ulang, mengantar dan dicoret Bang Togar. Sampai
berulang-ulang.”
Selalu bersyukur : “Aku mendapatkan teman yang baik dan pengalaman
yang sangat aku impikan sejak dulu. Sudah seharusnya aku selalu bersyukur..”
(hal.425)
Sabar dalam menghadapi banyak cobaan : “Surat ini sesungguuhnya mewakili sebuah pelabuhan
keberuntungan yang bahagia setelah berkayuh melalui laut penuh badai dan
gelombang ganas hanya bermodalkan baju sabar. Man shabara zhafira.” (hal. 348)
Bertawakal : Aku mencoba menghibur diriku. Toh aku telah
melakukan usaha diatas rata-rata. Telah pula aku sempurnakan kerja keras dengan
doa. Sekarang tinggal aku serahkan pada Tuhan. Aku coba ikhlaskan semuanya.
(hal. 28)
Patuh kepada orangtua : “Nak, sudah wa’ang patuhi perintah Amak untuk sekolah agama,
kini pergilah menuntut ilmu sesuai keinginanmu...” kata Amak. (hal.41)
-Randai :
Merendahkan orang lain : “Hmm, kuliah di mana setelah pesantren? Emangnya wa’ang bisa kuliah ilmu umum? Kan tidak ada ijazah SMA? Bagaimana akan bisa
ikut UMPTN?”.(hal.4)
Setia kawan, baik hati, mau menolong : “Lif, kita kan kawan, tinggal saja dulu di sini
sampai ketemu kos yang pas.”
“Atau begini saja. Bagaimana kalau gabung saja dengan
aku di sini, kita bisa patungan bayar berdua kamar ini.” (hal.62)
Pemarah : “Mana mungkin wa’ang bisa
bantu. Ini kan pelajaran Teknik, pasti nggak ngerti!” suaranya meninggi “Tadi
diapakan ini? Bertahun-tahun komputer ini tidak pernah rusak!” Tangannya
sekarang membuka kap CPU dengan kasar, mencabut beberapa kabel sekali renggut
dengan keras.” (hal 168)
-Raisa :
Ramah, penuh senyum, adil : “Dalam pandanganku, Raisa dengan adil membagi
perhatia, senyum, dan tawa yang sama kepada cerita aku dan Randai”
Percaya diri : “Acara ditutup dengan Raisa tampil di depan.
Seragam jas biru tua semakin menambah aura percaya dirinya yang besar.” (hal.
228)
-Amak :
Baik hati, bijaksana, penyayang : “Nak, sudah wa’ang patuhi perintah Amak untuk sekolah agama,
kini pergilah menuntut ilmu sesuai keinginanmu. Niatkanlah untuk ibadah, insya
Allah selalu dimudahkanNya. Setiap bersimpuh setelah salat, Amak selalu berdoa
untuk wa’ang,” kata Amak. (hal.41)
-Ayah :
Menepati janjinya : “Alif, ini semua formulir yang harus diisi. Waktu
ujian persamaan SMA tinggal 2 bulan lagi. Sekarang tugas wa’ang untuk belajar keras. (hal.6)
Penuh perhatian : “Ayah dan Amak akan doakan dengan sepenuh hati,”
kata Ayah menatapku. Tangannya mengusap kepalaku sekilas. (hal.25)
Keras kepala : “Sebetulnya, Pak Mantri Pian sudah menganjurkan
Ayah untuk banyak beristirahat, tapi dia tetap juga keras kepala untuk batanggang menonton Piala Eropa
bersamaku sampai subuh” (hal.31)
Bijaksana : “Nak, ingat-ingatlah nasihat para orangtua kita. Di mana bumi dipijak,
di situ langit dijunjung jangan lupa membawa nama baik dan kelakuan. Elok-elok
di negeri orang. Jangan sampai berbuat salah.” (hal.41)
-Kiai Rais :
Teladan, bijaksana : “...Cobalah bayangkan. Kalian yang dikaruniai bakat
hebat dan otak cerdas adalah bak golok tajam yang berkilat-kilat. Kecerdasan
kalian bisa menyelesaikan beberapa masalah. Tapi kalau kalian tidak serius,
tidak sepenuh tenaga dan niat, maka kaliat tidak akan maksimal, misi tidak akan
sampai, usaha tidak akan berhasil, kayu tidak akan patah...”
-Bang Togar :
Berbakat menulis : “Dia bercerita, Togar masih mahasiswa tapi telah
menjadi penulis tetap di berbagai media, bahkan menjadi kontributor reguler di kompas.”(hal. 65)
Keras, agak sombong : “Tapi dia sangat keras dan agak sombong. Banyak
yang mau belajar menulis sama dia, tapi sering ditolak atau orang itu gagal di
jalan.” Kata Mitra berbisik (hal. 66)
-Rusdi :
Percaya diri : “...Tapi kitalah, ya kita, yang sebetulnya
berkualitas laki-laki terbaik. Kitalah manusia unggul,”
“ Kita seperti sedang menyamar. Sayang sekali mereka,
para gadis, itu tidak tahu. Rugilah mereka. It’s
their loss, not ours,” (hal.424)
Mudah bergaul : “Tidak jauh dariku, Rusdi juga sedang berkenalan
dengan beberapa orang lain. Tidak butuh waktu lama untuk membuat anak-anak
Kanada ini mengrubung Rusdi.”
-Francolin Pepin :
Lucu, murah senyum, baik hati : “Aku kembali tertawa melihat mimiknya, mulut
tersenyum lebar, alis terkembang, mata terbelalak. Mungkin aku tidak dapat
mitra bahasa Inggris, tapi setidaknya aku mendapat seorang kawan yang baik dan
lucu.” (hal. 356)
-Mado :
Baik hati, berhati lembut, penuh perhatian : “Mado, perempuan berambut pirang yang
lembut hati ini selalu telaten membakar roti isi omelet yang gurih buat sarapanku. Sering dia berlari-lari tiba-tiba
menyusulku yang sudah naik ke sadel sepeda, hanya untuk memasukkan lagi
sebungkus biskuit.” ( hal.428)
-Ferdinand :
Banyak berbuat daripada bicara, perhatian, baik hati : “Sedangkan Ferdinand banyak berbuat daripada
bicara. Aku pernah bilang harus mengirim artikel setiap minggu ke koran di
Bandung. Diam-diam dia menghubungi anak sulungnya, Jeaninne yang sudah bekerja
di Quebec City, menanyakan apakan punya komputer yang tidak dipakai.” (hal.429)
- Kak Marwan :
Bijaksana : “Tugas kalian adalah sebagai duta muda bangsa di
mata orang Kanada. Jadilah cerminan orang Indonesia yang terbaik. Gunakan
setiap kesempatan untuk menjadi yang terbaik,” hal.264)
-Wira :
Pemarah, pemberani : “Di kananku, Wira si kera ngalam yang berparas putih ini telah menjelma seperti udang
rebus. Merah padam. Matanya tak lepas-lepas menantang telunjuk Jumbo yang
menghardiknya.” (hal. 55)
-Agam :
Mudah bergaul, humoris, baik hati, usil : “Agam adalah perekat kami. Dia selalu punya humor
heboh untuk diceritakan. Agam suka mengikat sepatu orang lain atau melempat
bola kertas untuk mengusili teman yang mengantuk.” (hal.59)
-Memet :
Cinta damai, suka membantu : “Memet juga berbadan subur, tapi kebalikan dari
Agam. Dia pecinta damai dan selalu melarang Agam berbuat usil. Kegiatan utama
memet adalah sibuk membantu siapa aja. Kalau kami kehausan, dia akan dengan
senang hati mengangsurkan botol minum.” (hal. 60)
Latar tempat :
-Danau maninjau
: “Batu sebesar gajah ini menjorok ke Danau Maninjau, dianungi sebatang pohon
kelapa yang melengkung seperti busur.” (hal. 1)
-Kamar Alif :
Kamarku kini seperti toko barang bekas (hal. 9)
-Kampus :
“Kampusku, jurusan Hubungan Internasional, terletak di perbukitan Dago,
menempel dengan Dago Tea Huiss.” (hal. 64)
-Depan kos Bang
Togar : “Dengan terengah-engah aku sampai juga di depan kos Bang Togar.” (hal.
73)
-Bandung :
“Hampir setahun aku di Bandung.” (hal. 83)
-Rumah kos
Randai : “Akhirnya aku sampai di rumah kos Randai, sebuah rumah yang terjebak
diantara rumah-rumah penduduk di salah satu ujung gang.” (hal.44)
-Maninjau :
“Dengan duit pinjaman dari Randai, malam itu juga aku pulang ke Maninjau.”
(hal. 86)
-Cibubur :”Begitu
menginjakkan si Hitam di gerbang kamp persiapan Cibubur.” (hal. 218)
-Kota Amman :
“Begitu satu bus besar kami membelah Kota Amman, Semua mata kami kini terbuka
lebar.” (hal. 238)
-Montreal :
“Setelah beberapa hari di Montreal, aku mulai berani untuk berjalan-jalan
sendiri.” (hal. 261)
-Kanada :”Ternyata
berburu di Kanada merupakan sebuah olahraga dan budaya.”
Latar waktu :
- Setahun
Lalu : “Setahun lalu, beliaulah yang datang...” (hal. 5)
- Sudah
beberapa minggu :“Sudah beberapa minggu Ayah terserang batuk.” (hal.31)
- Seminggu
ini : “Seminggu ini aku rasanya ingin terus mengulum senyum.” (hal. 32)
- Empat
tahun lalu : “Empat tahun lalu aku merantau ke Pondok Madani.” (hal. 37)
- Pada suatu
pagi : “Pada suatu pagi,Bandung begitu gelap seperti sudah malam.” (hal. 81)
- Hampir
setahun : “Hampir setahun aku di Bandung.” (hal. 83)
- Seminggu
berlalu : “Seminggu berlalu”. (hal. 209)
- Hari Minggu
pagi : “Hari Minggu pagi ini, Mado dan Ferdinand terus mondar mandir di dapur.”
(hal. 313)
-Lebih dari
setengah jam: “Lebih dari setengah jam, Rusdi melampiaskan kegembiraannya
sampai aku iri dengan nasib baiknya ini.” (hal. 362)
-Beberapa bulan
: “Tidak terasa sudah beberaoa bulan aku tinggal di tanah berbahasa Prancis
ini.” (hal. 420)
-Dalam hitungan
bulan : “Dalam hitungan bulan,
pelan-pelan, kami anak-anak Indonesia menjelma menjadi selebriti lokal di
Saint-Raymond.” (hal. 433)
Sudut pandang :
orang pertama
pelaku utama
“..Aku duduk di
bagian batu yang landai sambil menjuntaikan kaki.”
Gaya Bahasa :
Resmi
Alur : Campuran ( maju-mundur, maju lagi, mundur lagi)
Alif, lulusan Pondok Madani yang bercita-cita ingin masuk universitas negeri.
Ia berjuang sangat keras sampai harus mengulang pelajaran SMA. Akhirnya, ia
berhasil masuk UNPAD lewat UMPTN. Banyak rintangan yang ia lalui dalam menempuh
hidupnya, apalagi setelah kematian Ayahnya yang membuat Alif hampir putus asa.
Tapi buku diarynya semasa di pondok
mebuatnya bangkit kembali. Ingatannya kembali ke masa di mana kyai Rais, sosok
tauladan Pondok Madani, memberi nasihat dan petuah. Beliau selalu memberi jurus
ampuh seperti jurus dua golok dan mantra sakti “man shabara zhafira”. Sejak mengingat mantra itu, Alif selalu dapat
menyelesaikan masalahnya yang terus datang. Sampai akhirnya, semua mimpi Alif
tercapai. Ia berhasil menginjak tanah Aman, ke Amerika mewakili pelajar
Indonesia, menjadi relawan di stasiun TV di Kanada.
Amanat : Kejarlah
mimpi dengan kerja keras yang maksimal, berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Tetap pada prinsip serta tidak mudah
menyerah adalah kunci menuju keberhasilan hidup. Dan bersabar lah
karna sesungguhnya orang-orang sabra adalah orang-orang yang beruntung.
