Minggu, 24 November 2013


 Kesabaran Tak Berbatas 
                            Oleh  Haning Sylirana Sri D.A

Judul buku             : Ranah 3 warna
Penulis                   :Ahmad Fuadi
                             Penerbit                : PT Gramedia Pustaka     Utama, Jakarta
Cetakan Terbit      : 1
Tebal                    : 496 halaman
Harga                    : Rp.65.000,-




A.   Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang kesungguhan seseorang yang ingin membuktikan kepada semua orang bahwa Alif mampu menggapai cita-citanya, walaupun orang-orang sekitarnya menganggap bahawa itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi. Alif memiliki mimpi bahwa ia ingin menjadi seperti Habibie dan bersekolah hingga Amerika. Itulah cita-citanya semasa ia masih di sekolah MTsN bersama Randai sahabat karibnya, dan ia juga memiliki tekad akan melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi atau kuliah walaupun ia harus mengikuti ujian persamaan SMA untuk mendapatkan ijazah. Karna di PM (Pondok Madani) tidak mengeluarkan ijazah SMA, setelah itu barulah Alif dapat mengikuti ujian UMPTN. Segala usaha ia kerahkan bahkan melebihi kemampuannya dan semua itu ia lakukan agar dia mampu mendapatkan hasil yang terbaik. Perjuangan keras Alif pun tidak sia-sia sehingga ia lulus masuk Universitas Padjadjaran yang terletak di Bandung dan ia masuk jurusan Hubungan Internasional walau pun bukan Teknik Penerbangan ITB yang di dapatnkannya seperti yang ia harapkan selama ini, tapi justru di sana lah kesuksesannya berawal.
Selama kuliah di Bandung Alif mengalami banyak sekali terpaan masalah yang menerjang, seperti minimnya uang bulanan, walau masih cukup hidup sederhana tapi ia tidak memiliki uang lebih untuk membeli buku tambahan, ditambah pula disaat masa-masa sulitnya itu ia ditimpa masalah lagi dengan kematiannya ayahnya lantaran sakit yang dideritanya selama ini, sempat terpikirkan bahwa ia akan berhenti kuliah dan kembali ke kampung halamannya, membela Ibu dan adik-adiknya, tapi Alif juga merasa bimbang karena telah mengingat perjuangan kerasnya untuk dapat lulus dari UMPTN dan juga ia mengingat nasihat ayahnya untuk terus melanjutkan apa yang telah ia mulai sebelumnya. Tetapi dengan segala masalah yang ia alami dengan susah payah ia lewati Alif berusaha menjadi lebih tegar dan lebih sabar, kekuatan ini muncul karna seketika ia mengingat kata mutuara yang telah ia pelajari saat d PM dulu yaitu “Man Shabara zhafira” yang artinya adalah “Barang siapa yang bersabar maka akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Untuk mengatasi perekonomiannya Alif pun mulai mencari perkerjaan agar ia mampu mencukupi kebutuhan kuliahnya dan juga ingin membantu meringankan beban ibunya di kampung.
Tidak lama bagi Alif untuk menemukan perkerjaan, karena teman-temannya siap membantu, namun perkerjaan itu tidak berlangsung lama karena Alif sempat menderita sakit tifus selama kurang lebih 1 bulan, sehingga perkerjaannya yang terdahulu terpaksa ia hentikan. Alif beralih menjadi penulis yang kebetulan ia menemukan guru yang sayangat pandai dalam urusan menulis dan ia pula merupakan Pimpina Redaksi Kutub yang bernama Bang Togar, Alif pun berusaha agar bisa menjadi murid Bang Togar. Perjuangan Alif pun tidak sia-sia, setelah banyak usaha dan coretan yang didapatkannya, akhirnya tulisannya pun dimuat dimajalah kampus dan berlanjut sampai ke koran Manggala. Melalui menulis itulah dia mendapat hasil yang lebih baik, dan ia mampu mengirimkan uang ke ibunya di kampung.
Keingina Alif untuk belajar sampa ke Amerika pun terwujud dengan adanya program petukaran pelajar yang ia ikuti, dan Alif pun memilih Kanada sebagai negara yang ingin dia kunjungi, di Amerika pun tarjadi proses pembelajaran melalui pekerjaan yang di berikan kepada masing-masing mahasiswa yang ada di sana, selain belajar, mereka pun akan tinggal bersama orang tua angkat mereka selama mereka tinggal di sana. Alif sangat terkesan terhadap negara tersebut, dan bahkan sesampainya Alif tiba di rumahnya yang akan ia tinggali selama ia menjalani pertukaran tersebut ia mendapati Mado dan Franc bersedih karena mereka mendapat surat bahwa program pertukaran pelajar akan selesai dan hanya tersisa 2 minggu lagi untuk Alif tinggal di sana, tidak hanya Mado dan Franc yang sedih setelah membaca surat tersebit Alif pun merasakan hal yang sama. Alif pun berjanji bahwa ia akan kembali ke Kanada setelah beberapa tahun kedepan. Tanpa diduga 11 tahun kemudian Alif menepati janjinya untuk kembali ke Kanada. Alif datang ke Kanada bersama istrinya untuk menepati janjinya kepada orang tua angkatnya itu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar