Oleh Haning Sylirana Sri D.A
Judul buku : Ranah 3 warna
Penulis :Ahmad
Fuadi
Penerbit :
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal : 496 halaman
Harga : Rp.65.000,-
A. Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang
kesungguhan seseorang yang ingin membuktikan kepada semua orang bahwa Alif
mampu menggapai cita-citanya, walaupun orang-orang sekitarnya menganggap bahawa
itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi. Alif memiliki mimpi bahwa
ia ingin menjadi seperti Habibie dan bersekolah hingga Amerika. Itulah
cita-citanya semasa ia masih di sekolah MTsN bersama Randai sahabat karibnya,
dan ia juga memiliki tekad akan melanjutkan pendidikannya hingga perguruan
tinggi atau kuliah walaupun ia harus mengikuti ujian persamaan SMA untuk
mendapatkan ijazah. Karna di PM (Pondok Madani) tidak mengeluarkan ijazah SMA,
setelah itu barulah Alif dapat mengikuti ujian UMPTN. Segala usaha ia kerahkan
bahkan melebihi kemampuannya dan semua itu ia lakukan agar dia mampu
mendapatkan hasil yang terbaik. Perjuangan keras Alif pun tidak sia-sia
sehingga ia lulus masuk Universitas Padjadjaran yang terletak di Bandung dan ia
masuk jurusan Hubungan Internasional walau pun bukan Teknik Penerbangan ITB
yang di dapatnkannya seperti yang ia harapkan selama ini, tapi justru di sana
lah kesuksesannya berawal.
Selama kuliah di Bandung Alif
mengalami banyak sekali terpaan masalah yang menerjang, seperti minimnya uang
bulanan, walau masih cukup hidup sederhana tapi ia tidak memiliki uang lebih
untuk membeli buku tambahan, ditambah pula disaat masa-masa sulitnya itu ia
ditimpa masalah lagi dengan kematiannya ayahnya lantaran sakit yang dideritanya
selama ini, sempat terpikirkan bahwa ia akan berhenti kuliah dan kembali ke
kampung halamannya, membela Ibu dan adik-adiknya, tapi Alif juga merasa bimbang
karena telah mengingat perjuangan kerasnya untuk dapat lulus dari UMPTN dan
juga ia mengingat nasihat ayahnya untuk terus melanjutkan apa yang telah ia
mulai sebelumnya. Tetapi dengan segala masalah yang ia alami dengan susah payah
ia lewati Alif berusaha menjadi lebih tegar dan lebih sabar, kekuatan ini
muncul karna seketika ia mengingat kata mutuara yang telah ia pelajari saat d
PM dulu yaitu “Man Shabara zhafira” yang artinya adalah “Barang siapa yang
bersabar maka akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Untuk mengatasi
perekonomiannya Alif pun mulai mencari perkerjaan agar ia mampu mencukupi
kebutuhan kuliahnya dan juga ingin membantu meringankan beban ibunya di kampung.
Tidak lama bagi Alif untuk
menemukan perkerjaan, karena teman-temannya siap membantu, namun perkerjaan itu
tidak berlangsung lama karena Alif sempat menderita sakit tifus selama kurang
lebih 1 bulan, sehingga perkerjaannya yang terdahulu terpaksa ia hentikan. Alif
beralih menjadi penulis yang kebetulan ia menemukan guru yang sayangat pandai
dalam urusan menulis dan ia pula merupakan Pimpina Redaksi Kutub yang bernama
Bang Togar, Alif pun berusaha agar bisa menjadi murid Bang Togar. Perjuangan
Alif pun tidak sia-sia, setelah banyak usaha dan coretan yang didapatkannya,
akhirnya tulisannya pun dimuat dimajalah kampus dan berlanjut sampai ke koran
Manggala. Melalui menulis itulah dia mendapat hasil yang lebih baik, dan ia
mampu mengirimkan uang ke ibunya di kampung.
Keingina Alif untuk belajar sampa
ke Amerika pun terwujud dengan adanya program petukaran pelajar yang ia ikuti,
dan Alif pun memilih Kanada sebagai negara yang ingin dia kunjungi, di Amerika
pun tarjadi proses pembelajaran melalui pekerjaan yang di berikan kepada
masing-masing mahasiswa yang ada di sana, selain belajar, mereka pun akan
tinggal bersama orang tua angkat mereka selama mereka tinggal di sana. Alif
sangat terkesan terhadap negara tersebut, dan bahkan sesampainya Alif tiba di
rumahnya yang akan ia tinggali selama ia menjalani pertukaran tersebut ia
mendapati Mado dan Franc bersedih karena mereka mendapat surat bahwa program
pertukaran pelajar akan selesai dan hanya tersisa 2 minggu lagi untuk Alif
tinggal di sana, tidak hanya Mado dan Franc yang sedih setelah membaca surat
tersebit Alif pun merasakan hal yang sama. Alif pun berjanji bahwa ia akan
kembali ke Kanada setelah beberapa tahun kedepan. Tanpa diduga 11 tahun
kemudian Alif menepati janjinya untuk kembali ke Kanada. Alif datang ke Kanada bersama
istrinya untuk menepati janjinya kepada orang tua angkatnya itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar